See all Pages Sustainability

Sustainability

Komitmen untuk mengurangi Dampak (Bahan Kimia & Pestisida Berbahaya)

DSNG berkomitmen dalam upaya alternatif penurunan dengan menerapkan sistem Pengelolaan Hama Terpadu (IPM):

  • Mengutamakan metode alami: penggunaan musuh alami, predator, parasitoid, dan entomopatogen.
  • Memanfaatkan bio-insektisida ramah lingkungan sebagai pengganti bahan kimia.
  • Menanam tanaman seperti Turnera subulata dan Antigonon leptopus untuk mendukung habitat predator alami.
  • Menggunakan pengendalian teknis hanya jika metode hayati tidak efektif, dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem.
  • Melibatkan tim ahli untuk memantau kondisi lapangan secara berkala.

Dalam penerapannya di lapangan dan penyimpanan, kami meminimalkan kontaminasi dan pencemaran dari pupuk, pestisida dan bahan kimia lainnya, komitmen ini berlaku untuk semua persediaan kami. Penggunaan bahan kimia pertanian dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah dan hasil yang tinggi. Untuk alasan ini, kami sedang dalam berupaya untuk mengadopsi 100% bio-insektisida dan musuh alami untuk mengendalikan hama kelapa sawit.

Pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami dari predator, parasitoid maupun entomopatogen yang secara alami akan menekan populasi hama sehingga terjadi keseimbangan dan tidak mencemari lingkungan. Pengendalian teknis akan dijalankan sebagai alternatif terakhir apabila pengendalian alami dan hayati tidak mampu menekan populasi hama secara signifikan.  Untuk mendukung perkembangbiakan dan konservasi serangga predator dan parasitoid hama Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS) Kami melakukan upaya dengan perbanyakan tanaman bermanfaat yang merupakan rumah bagi kehidupan serangga predator/parasitoid di lapangan. Adapun beberapa jenis tanaman yang digunakan dalam konservasi ini adalah Antigonon leptopusTurnera subulataTurnera ulmifoliaEuphorbia heterophilaNephrolepis sp., Celosia sp., dan Cratoxylum spp. 

Areal Konservasi Parasitoid/Predator Hama UPDKS

Sebagai anggota RSPO yang bertanggung jawab, kami juga mematuhi Indikator 7.2.5 P&C RSPO 2018, yang tidak mengizinkan penggunaan paraquat serta pestisida lain yang dikategorikan sebagai Kelas 1A atau 1B oleh Organisasi Kesehatan Dunia, atau yang terdaftar oleh Stockholm atau Konvensi Rotterdam, kecuali dalam keadaan luar biasa.

Daftar Pestisida yang digunakan *)

*) List Pestisida diatas merupakan pestisida yang digunakan sejak tahun 2022 hingga tahun 2025 saat ini

Untuk itu, kami berkomitmen menggunakan bahan kimia secara bijak untuk mendukung kelestarian lingkungan dan kesehatan tanah. Pengelolaan terpadu diterapkan dengan prioritas pada solusi alami, seperti bio-insektisida dan musuh alami, sementara penggunaan bahan kimia dilakukan sesuai standar keamanan untuk meminimalkan dampak lingkungan. Pemakaian bahan kimia dilakukan secara terukur dan hanya bila diperlukan, dengan prioritas pada bio-insektisida dan musuh alami. Pelatihan rutin diberikan kepada karyawan dan petani untuk memastikan praktik yang aman dan sesuai prosedur. Pada tahun 2025, kami menggunakan sekitar 19 jenis pestisida dengan total penggunaan 34,74 kg kimia aktif per ha.

Alternatif Pengganti Pestisida

  1. Pengembangan Biofungisida & Bioinsektisida

DSNG berkomitmen menurunkan penggunaan bahan kimia melalui pemupukan yang lebih aman, penyimpanan sesuai standar, serta peningkatan penggunaan bio-insektisida. Perusahaan juga terus mendorong adopsi 100% bio-insektisida untuk pengendalian hama utama kelapa sawit.

2. Pengembangan Musuh Alami Burung Hantu (Tyto alba)

Pemanfaatan burung hantu Tyto alba dikembangkan sebagai predator alami untuk pengendalian hama tikus di area perkebunan kelapa sawit DSNG. Selama 2025, sebanyak 12 ekor Tyto alba telah dikembangkan dan dilepasliarkan sebagai bagian dari upaya pengendalian hayati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

3. Pengembangan Tanaman Inang

Pemanfaatan tanaman inang dikembangkan untuk meningkatkan populasi predator dan parasitoid secara alami sebagai bagian dari pengendalian hayati berkelanjutan. Berbagai jenis tanaman seperti Antigonon leptopus, Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Euphorbia heterophylla, Nephrolepis sp., Celosia sp., dan Cratoxylum sp. ditanam guna mendukung stabilitas ekosistem perkebunan. Pada tahun 2025, penanaman Turnera sp sebagai beneficial plant telah melampaui target dengan realisasi lebih dari 7% dari rencana tahunan, mencakup total 1.921 blok.

4. Pengembangan Predator Sycanus

Pemanfaatan predator alami Sycanus dikembangkan sebagai bagian dari strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di area perkebunan kelapa sawit untuk menekan populasi hama daun dan mengurangi ketergantungan terhadap insektisida kimia. Program penangkaran yang dimulai pada Juli 2025 ini didukung melalui pengelolaan habitat dan pengembangan tanaman inang. Selama tahun 2025, sebanyak 270 ekor Sycanus telah dikembangkan dan dilepasliarkan sebagai upaya pengendalian hayati yang berkelanjutan.