Ketika Api Datang di Luar Batas: Dukungan PT Pilar Wanapersada Memadamkan Karhutla Bersama Masyarakat
By Sigit Rudiharyono – CSR Kalteng
Api tidak pernah mengenal batas administrasi. Ketika kebakaran terjadi, asap dan bara tidak berhenti pada garis batas lahan. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga tidak seharusnya berhenti pada batas wilayah operasional.
Hal itu terlihat ketika kebakaran melanda sebagaian areal desa di sekitar operasional Perusahaan. Lahan yang terbakar berlokasi sekitar dua kilometer dari area Hak Guna Usaha (HGU) PT Pilar Wanapersada.
Walaupun titik kebakaran terjadi di luar wilayah HGU perusahaan, respons tetap diberikan. Menurut saya, keputusan Perusahaan untuk turun langsung menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan perspektif yang lebih luas. Ketika api berada di sekitar wilayah operasional dan berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat, batas kepemilikan lahan tidak lagi menjadi alasan untuk tidak bertindak.
Bergerak Sebelum Api Meluas
Begitu informasi mengenai kebakaran diterima, koordinasi dengan unsur Muspida dan BPBD setempat dilakukan. Pimpinan perusahaan juga turun langsung memantau proses pengendalian api di lapangan.
Yang terlihat kemudian bukan sekadar kehadiran simbolis. PT Pilar Wanapersada mengerahkan kekuatan personel dan peralatan untuk membantu mempercepat pengendalian kebakaran. Sedikitnya tiga tim pemadam diterjunkan dengan total sekitar 60 personel.
Di lapangan, puluhan orang tersebut bekerja bersama dengan dukungan berbagai jenis peralatan yang disiapkan untuk menghadapi kondisi kebakaran yang tidak mudah.
Satu unit backhoe loader dikerahkan untuk membantu membuka akses dan menangani kondisi medan. Empat unit water tank disiapkan untuk mendukung suplai air. Delapan kendaraan double cabin digunakan untuk mobilisasi, sementara satu unit ambulans disiagakan untuk mendukung aspek keselamatan personel. Mobilitas di medan yang sulit juga didukung oleh 20 unit sepeda motor dan 15 unit pompa jinjing.
Melihat Api dari Dekat, Memantau dari Udara
Medan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses pemadaman. Areal yang terbakar berada di kawasan perbukitan dengan kontur yang terjal. Kondisi ini membuat akses menuju titik kebakaran menjadi lebih sulit dan proses pengendalian api membutuhkan strategi serta koordinasi yang lebih cermat.
Di tengah kondisi tersebut, pemantauan menjadi bagian penting dari operasi. Satu unit drone disiagakan untuk membantu melihat kondisi area dari udara. Sementara itu, 12 unit handy talky (HT) digunakan untuk menjaga komunikasi antartim di lapangan.
Kombinasi antara pemantauan dari udara, komunikasi antarpersonel, kendaraan pendukung, pompa, dan suplai air memungkinkan tim memiliki gambaran yang lebih cepat mengenai pergerakan api serta kebutuhan penanganan di berbagai titik. Bagi saya, teknologi dan peralatan dalam situasi seperti ini bukan sekadar pelengkap. Keduanya menjadi bagian dari cara untuk mengambil keputusan secara lebih cepat ketika kondisi di lapangan terus berubah.

Kekuatan Penuh, Keselamatan Tetap Utama
Besarnya kekuatan yang dikerahkan bukan berarti pemadaman dilakukan tanpa perhitungan. Di tengah medan yang terjal dan kondisi api yang masih harus dikendalikan, keselamatan personel tetap menjadi bagian penting dalam setiap langkah. Pengendalian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan risiko yang dihadapi oleh tim pemadam.
Hal ini menjadi penting karena operasi pemadaman bukan hanya tentang seberapa cepat api dapat dipadamkan, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh personel dapat menjalankan tugasnya dengan aman.
Dari lapangan, terlihat bahwa setiap unsur memiliki perannya masing-masing. Ada yang berfokus pada pemadaman, ada yang mendukung suplai air, ada yang memastikan mobilisasi berjalan, sementara tim lainnya membantu pemantauan dan komunikasi. Semua bergerak menuju tujuan yang sama: mengendalikan api sebelum semakin meluas.
Ketika Tanggung Jawab Melampaui Batas HGU
Satu hal yang menurut saya menarik dari peristiwa ini adalah lokasi kebakaran. Api tidak muncul di dalam HGU PT Pilar Wanapersada. Titiknya berada sekitar dua kilometer dari wilayah operasional perusahaan. Namun, respons tetap diberikan.
Ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat memiliki cakupan yang lebih luas daripada batas operasional. Ketika perusahaan hidup berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah kerjanya, persoalan lingkungan yang terjadi di sekitarnya juga menjadi bagian dari kepedulian bersama.
Dalam konteks karhutla, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. Api yang berada di luar wilayah perusahaan tetap dapat berkembang, berpindah, dan memberikan dampak yang lebih luas apabila tidak segera dikendalikan.
Karena itu, membantu penanganan sejak awal bukan hanya tentang memadamkan satu titik kebakaran. Lebih jauh, ini adalah bagian dari upaya mencegah dampak yang lebih besar.
Api Padam, Namun Tetap Waspada
Hingga proses pemantauan dilakukan, dugaan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan oleh instansi yang berwenang. Artinya, persoalan mengenai bagaimana api bermula masih membutuhkan proses lebih lanjut.
Namun satu hal sudah terlihat jelas: ketika kebakaran terjadi, respons cepat menjadi sangat berarti. Enam puluh personel, puluhan kendaraan dan peralatan, dukungan komunikasi, hingga pemantauan udara dikerahkan untuk menghadapi kebakaran di medan yang tidak mudah. Semua sumber daya tersebut menunjukkan bahwa kesiapan bukan sesuatu yang dibangun ketika api sudah membesar. Ia harus dipersiapkan jauh sebelumnya.
Ini adalah cerita tentang bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Karena pada akhirnya, api mungkin muncul di luar batas wilayah kita, tetapi tanggung jawab untuk menjaga lingkungan tidak seharusnya berhenti di sana.