NEWS

Kinerja Emiten CPO Tertekan

Jakarta - Laba bersih emiten produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada semester I – 2015 terpangkas hingga 53,94 persen menjadi Rp 1,73 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 3,77 triliun. Sedangkan pendapatan turun 6,73 persen menjadi Rp 26,68 triliun dari sebelumnya Rp 28,6 triliun.

Hingga Juni 2015, penyusutan laba bersih paling signifikan dialami oleh PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) yang mencapai 95,54 persen menjadi Rp 2,27 miliar, dibandingkan Rp 50,86 miliar pada periode sama 2014. Koreksi laba juga dialami oleh PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) yang laba bersihnya terpangkas 91,37 persen menjadi Rp 12,2 miliar dari periode sama tahun lalu Rp 141,46 miliar.

Kendati demikian, di tengah kondisi yang masih tertekan PT Golden Plantation Tbk (GOLL) dan PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) justru mampu mencetak lonjakan laba bersih sebesar 925,45 persen dan 412,46 persen. Golden Plantation berhasil menghapuskan rugi bersih Rp 55 juta pada semester I -2014 dan membukukan laba bersih sebesar Rp 4,54 miliar pada semester I – 2015.

Adapun, laba Gozco Plantations tercatat sebesar Rp 18,09 miliar per Juni 2015. Penjualan bersih keduanya juga naik masing-masing 1,41 persen menjadi Rp 219,74 miliar untuk Golden Plantations, dan Rp 222,83 miliar untuk Gozco Plantations.

Sedangkan, PT Sawit Sarana Sumbermas Tbk (SSMS) masih membukukan kenaikan laba bersih sebesar 2,11 persen menjadi Rp 394,74 miliar dibandingkan periode sama 2014 sebesar Rp 386,58 miliar. Hal tersebut disebabkan peningkatan produksi Tandan Buah Segar (TBS) pasca akuisisi PT Tanjung Sawit Abadi (TSA) dan PT Sawit Multi Utama (SMU) pada Februari 2015

“Akuisisi tersebut menopang kinerja disaat tekanan harga jual CPO yang masih berlanjut,” ungkap Sekretaris Perusahaan Sawit Sumbermas Hadi Susilo beberapa waktu lalu.

Sedangkan, laba bersih PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum susut 35,46 persen dari sebelumnya Rp 478,54 miliar pada Juni 2014 menjadi Rp 308,85 miliar per Juni tahun ini. Hal tersebut di sebabkan oleh penurunan penjualan bersih anggota grup salim tersebut sebesar 12,3 persen menjadi Rp 2,08 triliun dari sebelumnya Rp 2,37 triliun.

“Penurunan penjualan disebabkan penurunan harga jual rata-rata produk sawit dan karet yang dipicu penurunan harga global,” ungkap manajemen perseroan belum lama ini.

Sekretaris perusahaan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) Paulina Suryanti pun mengakui penurunan harga rata-rata CPO juga memukul kinerja perseroan. Selain itu, turunnya produksi CPO perseroan karena penurunan jumlah TBS yang diproses juga ikut memengaruhi kinerja.

“Harga rata-rata CPO perseroan pada Januari – Juni hanya mencapai Rp 7,5 juta per ton atau turun 14,4 persen dibandingkan harga rata-rata PO pada Januari – Juni 2014 yang mencapai Rp 8,8 juta per ton,” ungkap Paulina belum lama ini.

Sementara itu, empat emiten CPO lainnya yakni PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) atau SMART, PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP), PT Provident Agro Tbk (PALM), PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) mencatatkan rugi bersih per Juni 2015.

Penurunan signifikan terlihat pada SMART yang membukukan rugi bersih Rp 30,17 miliar. Padahal per Juni 2014 perseroan masih mengantongi laba sebesar Rp 960,7 miliar. Adapun, Bakrie Sumatra, Provident Agro, dan Multi Agro membukukan rugi bersih sebesar Rp 707 miliar, Rp 43,07 miliar, dan 27,46 miliar.

Bakal Terkerek
Sementara itu, Analis LBP Enterprises Lucky Bayu Purnomo mengatakan dalam jangka pendek saham-saham emiten CPO bakal terkerek naik apabila fed funds rate (FFR) ditetapkan naik pada September 2015. Sehingga, emiten CPO diprediksi akan menangkap peluang tersebut dan memaksimalkan kontrak dalam denominasi dolar Amerika.

“Sektor energi kalau dilihat mayoritas mitra dagang asing sehingga kontraknya dolar. Begitu juga halnya dengan emiten produsen CPO,” ujar dia kepada Investor Daily, Sabtu (8/8).

Lucky menghimbau pelaku pasar mencermati saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Keduanya direkomendasikan beli dengan target harga Rp 23.000 dan Rp 1.650

“Fokus beli saham emiten CPO yang kaitalisasinya besar. Sehingga, manuvernya bisa terasa,” ujar Lucky.

Dia menambahkan kedua sektor tersebut patut dicermati oleh investor jangka pendek. Adapun, momentum sebelum kenaikan FFR dinilai tepat untuk melakukan akumulasi beli.

Sumber:  Beritasatu.com